SAMARINDA—Walikota Samarinda H Syaharie Jaang mengemukakan sekalipun keponakannya, jika memang tidak memenuhi standar masuk di sekolah unggulan, terpaksa konsekuensi mendaftar di sekolah sesuai standar yang diraihnya.
“Saya bilang sama adik saya, Alhamdulillah karena keponakan saya bisa masuk di SMPN 24, tidak bisa dipaksakan ke sekolah unggulan kalau memang nilainya tidak cukup. Masih syukur di SMPN 24, kita dulu waktu sekolah di hulu (Mahakam), berjalan kaki ke sekolah,” ungkap walikota dalam sambutannya pada Peringatan Hari TB, Kesatuan Gerak PKK, Lansia dan Anak Nasional di rumah jabatan walikota, Minggu (3/7).
Walikota menegaskan sekaligus menyampaikan permohonan maaf, sekalipun keponakannya maupun anak-anak tim suksesnya, jika nilainya tidak mencukupi, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
“Makanya jauh-jauh hari saya juga sudah mengingatkan kepada anak saya yang naik kelas 3 SMP, supaya belajar dengan giat dan berdoa, supaya saat lulus nilainya mencukupi untuk masuk sekolah unggulan. Begitu pula anak-anak yang lainnya,” pesan Syaharie Jaang.
Ditulis oleh smpn29samarinda
Para guru keberatan dengan keluarnya surat dari Menteri Keuangan (Menkeu) tentang penghentian sementara tunjangan profesi guru dan dosen. Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Tengah (Jateng), Sudharto di Semarang, Minggu (29/3) mengatakan, pihaknya menyesalkan keluarnya surat dari Menkeu tersebut, sebab pasti menimbulkan kecemasan di kalangan guru. “Bahkan, akan melukai hati para guru, karena tunjangan tersebut semestinya menjadi hak guru,” katanya.
Konsep pembelajaran Matematika horizontal dikembangkan Stephanus Ivan Goenawan, pengajar di Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta. Metode horizontal ini merupakan metode perhitungan di mana proses penyelesaian dilakukan secara mendatar (horizontal) dari arah kanan menuju ke kiri. Bilangan desimal biasa dikonversi dengan notasi pagar (I). Upaya untuk mengenalkan konsep pembelajaran Matematika dengan cara tidak konvensional (selama pembelajaran Matematika menggunakan metode vertikal) dilakukan dengan menggelar olimpiade kreativitas angka yang diikuti siswa SD hingga perguruan tinggi.
Tema diskusi menarik di seminar yang diadakan oleh Forum Teknologi Informasi untuk Pendidikan (FORTIP) di Hotel Atlet Century, Senayan dengan materi yang dbawakan oleh Romi Satrio Wahono berjudul “Memikirkan Kembali Internet untuk Sekolah”. Diskusi dibuka dengan cerita perkembangan teknologi informasi dan pemanfaatan Internet di berbagai bidang. Bahwa di dunia Internet juga ada dunia gelap dan cybercrime yaitu pornografi, cracking activities, carding dan software piracy.
Tulisan ini aslinya berasal dari situs pribadi
Beberapa dewan pendidikan provinsi dan kabupaten/kota merasa bangga karena telah berhasil mendorong pemerintah daerah mengalokasikan 20 persen Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah (APBD) untuk pendidikan.
Ilmu adalah cahaya; karenanya dengan cahaya yang benderang, generasi muda bisa melangkah tegap di antara sesamanya. Ilmu adalah perhiasan; karenanya dengan cahaya dan hiasannya, jiwa-jiwa akan berada dalam benderang. Menggenggam ilmu dan menjelmakan dalam hidup, niscaya kebahagiaan dalam genggaman. Siapa menaruh hatinya dalam ilmu, niscaya mereka akan mendapatkan kebahagiaan, kebanggaan, dan keagungan. Ilmu adalah ladang. Siapa yang menanam, panenpun akan datang; sementara siapa yang membiarkan, kegagalan pasti menjelang.
Keberadaan Dewan Pedidikan merupakan konsekuensi logis dari otonomi pendidikan. Di dalamnya, berbagai pemangku kepentingan (stake holder) yaitu pemerintah daerah, masyarakat, dan praktisi pendidikan berkumpul dalam rangka menentukan kebijakan-kebijakan pendidikan. Oleh karena itu, peran dan fungsi tiga komponen tersebut harus terkoordinasi dengan baik.
Mulai awal 2009, pemerintah mendeklarasikan pendidikan gratis bagi sekolah di jenjang pendidikan dasar. Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama negeri penerima Bantuan Operasional Sekolah harus membebaskan siswanya dari berbagai pungutan operasional sekolah non-personal. “Kecuali RSBI dan SBI serta sekolah-sekolah yang berbasis keunggulan lokal,” tegas Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Prof. Suyanto, Ph.D.
Lolos sertifikasi itu mudah. Asalkan, para guru tahu caranya. Yang utama, tahu format penilaian dalam sertifikasi.
Benar secara nasional pencapaian telah berada dalam angka 96,18 persen tetapi jika dikuliti secara detail sesungguhnya masih jauh dari kenyataan.