Homeschooling Alternatif Pendidikan yang Semakin Diminati

Homeschooling (HS) atau sekolah rumah merupakan alternatif pendidikan yang semakin diminati. Apa dan bagaimana persisnya?

Suatu hari, seorang ibu menghubungi Yayah Komariah, SPd (40), pendiri sekaligus Ketua Komunitas Sekolah Rumah Berkemas (Berbasis Keluarga dan Masyarakat). Si ibu menceritakan problem hidupnya, termasuk derita anaknya yang duduk di bangku SMA. “Anak saya tidak berani sekolah,” katanya.

Rupanya, gara-gara masalah bisnis ayahnya, si anak jadi takut sekolah. “Bapaknya diancam lawan bisnisnya. Anak-istrinya juga diteror. Di sekolah, si anak tadi ditongkrongi. Jelas, si anak ketakutan,” tutur Yayah mengisahkan kembali penuturan ibu tadi.

Belakangan, si anak berhenti sekolah. “Padahal sudah akan menghadapi UAN (Ujian Akhir Nasional). Bingunglah ibunya. Apalagi, nilainya selalu bagus. Akhirnya ia memutuskan ikut HS dan berhasil menamatkan SMA lewat ujian paket C.”

Jadi Nyaman Belajar
Cerita yang diutarakan istri Margono ini, hanyalah sebagian kecil dari kisah para siswa yang bergabung di komunitas Berkemas. “Sekarang sudah ada 300 lebih siswa, mulai dari TK sampai SMA. Masalah yang mereka hadapi macam-macam. Ada yang semasa di sekolah formal jadi korban kekerasan teman-temannya, ada pula yang trauma dengan sikap gurunya.”

Belakangan ini, lanjut Yayah, banyak juga anak berkebutuhan khusus yang jadi muridnya. Bahkan, “Ada siswa kelas 4 SD yang sangat pintar. Lebih pintar dari gurunya. Dia kecewa dan mogok sekolah karena jawabannya disalahkan gurunya, padahal jawaban dia betul. Anak itu tahu karena dia pernah membaca buku milik ibunya yang seorang dosen.”

Begitulah, bila sekolah formal tidak lagi bisa menampung persoalan anak-anak, HS bisa dijadikan alternatif pilihan. “Lewat HS, si anak lebih merasa nyaman belajar.”

Itu pula, alasan Yayah mendirikan Berkemas. “Saya prihatin pada anak-anak yang punya aneka masalah seperti tadi. Sebelumnya, sudah 10 tahun saya jadi guru SD dengan waktu mengajar dari pagi sampai sore. Selama mengajar, saya melihat, banyak sekolah yang hanya bagus aksesorinya. Maksudnya, sarana dan prasarana memang ditingkatkan, namun cara mengajar dan mendidiknya tidak meningkat. Hanya orang-orang tertentu yang mendapat pendidikan terbaik. Padahal, buat saya, siapa pun mestinya bisa mendapatkan yang terbaik,” jelas Yayah.

Tahun 2004, Yayah mengundurkan diri dan mewujudkan impiannya memberi pendidikan pada siapa saja, tanpa kecuali. “Buar saya, tanpa gedung pun, kita bisa memulai pendidikan. Kelas tidak harus di dalam ruangan. Di mana saja, bisa, kok, belajar.”

Berbekal pengalamannya ia meyakini, dari tahun ke tahun materi pelajaran sebenarnya ada benang merahnya. Hanya saja, tiap tahun buku pelajaran sekolah ganti terus. Itu sebabnya, “Untuk materi pelajaran, saya menggunakan buku pelajaran bekas. Saya pun memulai pendidikan di luar sekolah formal. Waktu itu, saya belum dengar istilah HS.”

Yayah memulai dengan mengajar anaknya sendiri. Ada pula beberapa orangtua yang menitipkan anaknya untuk dididik.

“Semula jumlahnya hanya 5 siswa SD. Tiap pagi mereka datang ke rumah saya lalu saya ajak belajar ke taman atau halaman masjid. Cukup dengan menggelar tikar. Ternyata memang tidak mudah. Misalnya, ada mobil lewat, anak jadi tidak fokus menyimak pelajaran.”

Lambat-laut, Yayah menemukan model pembelajaran yang membuat siswa tetap mau menyimak pelajaran. Salah satunya, “Pagi sebelum pelajaran dimulai, saya lakukan penyamaan frekuensi dengan murid. Artinya, kami mesti sama-sama siap memulai pelajaran. Caranya bisa macam-macam, misalnya dengan nyanyi bersama.”

Memulai sesuatu yang baru memang tidak mudah. Setahun kemudian 2 siswanya mengundurkan diri. Toh, ia tak patah semangat. “Saya bikin pelatihan untuk orang tua mengenai sistem yang dijalani,” papar ibu lima anak ini.

Lewat berbagai informasi, termasuk internet, Yayah paham, apa yang dilakukannya itu adalah HS. Yayah juga dapat informasi, Kak Seto mendidik anaknya dengan cara HS. “Saya bertemu dan berdiskusi dengan Kak Seto. Dari sana, saya ikut deklarasi membuat asosiasi HS di Diknas Pusat. Saya juga bicara dengan Diknas tentang apa dan bagaimana HS.”

Begitulah, proses terus bergulir sampai akhirnya HS diakui. Siswanya juga punya rapor dan ijazah lewat ujian kesetaraan. “Dalam mengajar, saya mengacu kurikulum dari Diknas. Guru untuk siswa HS bisa orangtuanya sendiri, bisa juga mengundang guru. Saya hanya memberi kurikulum. Banyak sistem yang membuat anak mudah belajar,” kata Yayah seraya mengatakan untuk bergabung dengan Berkemas, cukup membayar Rp 500 ribu untuk semua fasilitas selama ikut HS.

Kini Yayah bisa tersenyum lega karena apa yang diupayakannya dengan susah payah, sudah terlihat hasilnya. “Saya memang ingin siswa HS terus berkembang. Mereka juga bisa diterima di perguruan tinggi. Universitas Cambridge juga bersedia menerima, tentu saja asal lolos tes. Saya yakin, kok, siswa HS bisa kuliah sampai luar negeri.”

Soal sosialisasi siswa dengan teman-temannya, menurut Yayah, tidak ada masalah. Secara berkala ia mengumpulkan para siswa dan mengadakan kegiatan bersama. “Kami pernah mengadakan ekspo mulai dari TK sampai SMA. Beragam kegiatan kami tampilkan. Ternyata kegiatan ini memang sangat bermanfaat. Anak-anak merasa punya teman. Ada kebanggaan jadi anak HS.”
Henry Ismono

DISIPLIN KUNCI UTAMA
Sore itu, siswa I-Homeschooling (IH) di medan (Sumut) sibuk membuat tempe. Tak cuma membuat, tapi juga mengemas dan menjualnya. Kata sang pendiri sekaligus pemilik IH, Elizabeth Lily, ide membuat homeschooling (HS) berawal dari kegemarannya mengajar. “Banyak anak dengan beragam latar belakang masalah tidak bisa sekolah di sekolah umum. Lalu saya berpikir, bagaimana caranya agar mereka bisa tetap belajar serta dapat ijazah nasional.”

Untuk kurikulum, Eli tetap mengacu pada kurikulum nasional. Tenaga guru yang berkualitas, juga disiapkan. Selain itu, para siswa diberi kelas pelatihan untuk mengetahui bakat dan keahlian anak. “Untuk pelatihan home industry, misalnya, anak diajari bagaimana membuat tempe, kerajinan, susu kedelai, kotak kue, sablon, hingga berkebun tanaman organik seperti bayam dan tomat.”

Yang berminat pada musik, disediakan berbagai alat musik. Begitu juga bagi yang suka bidang olahraga atau teknik. Selain keterampilan, anak juga diberi pendidikan untuk keperluan hidup sehari-hari seperti menata meja, pakaian, dan lainnya.

Berawal dari 50 siswa, kini IH yang sudah berusia 5 tahun, memiliki jumlah siswa berlipat ganda, dari mulai SD hingga SMA. Bahkan juga siswa dari luar Medan seperti Aceh, Pekanbaru, dan Batam. Untuk kelas jauh, cara belajarnya pun sangat sederhana. “Saya mengirim materi dan soal untuk ujian. Setiap bulan ada penyesuaian dan ujian. Orangtualah yang akan memberi soal ujian dan nantinya mengirim lagi ke saya. Tiga bulan sekali siswa datang ke Medan.”

Soal sosialisasi, Eli tak lupa mengajar anak didiknya belajar di luar. Misalnya di pasar, museum, hingga outbond. Sewaktu-waktu, Eli yang bekerja sama dengan pihak sekolah umum, juga mengajak anak didiknya belajar bersama di sekolah. “Tapi rata-rata siswa saya lebih suka HS.”

Setelah HS dikenal luas, kata Eli, banyak orang tua “bernapsu” memasukkan anaknnya. “Tapi belum tentu semua anak cocok masuk HS. Ada persyaratannya. Salah satunya, kerjasama dari orang tua. Kalau sudah memasukkan anaknya ke HS, orang tua harus disiplin karena mereka yang mencari atau bahkan menjadi guru dan mengawasi anak sendiri. Harus ada jadwal tersendiri. Pokoknya, kuncinya harus disiplin!” (nova)

5 Balasan ke Homeschooling Alternatif Pendidikan yang Semakin Diminati

  1. Anonymous mengatakan:

    Saya ingin anak saya sekolah di rumah saat ini anak saya telah duduk di sekolah dasar kelas 2 adakah yang bisa bantu saya untuk informasi hs di samarinda ini penting banget buat saya

  2. novianti noor mengatakan:

    Mencari info homeschooling di samarinda, kalimantan timur

  3. sugiyanto mengatakan:

    sy tertarik untuk mendirikan sklh semacm itu,kalau boleh bagaimana caranya untuk bisa dptkan pengakuan dari diknas.

  4. ratih mengatakan:

    di samarinda ad gak ya ????
    tolong info nya …. ?

  5. aji mengatakan:

    saya suka dengan HS lebih memudahkan kita sebagai murid

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: