Bagi orang gemuk makanan ibarat obat bius

Hasil temuan beberapa peneliti AS menunjukkan makan berlebihan dan kecanduan obat bius adalah hal yang terkait. Sebab, sirkuit otak yang sama terlibat ketika orang yang sangat gemuk mengisi perut mereka bagaikan ketika seorang pecandu obat bius memikirkan obat bius.

Temuan itu mungkin membantu menciptakan perawatan yang lebih baik bagi orang yang kelebihan berat badan, yang kini menjadi masalah kian besar di Amerika Serikat dan negara lain.

“Kami ingin mengetahui mengapa, ketika orang sudah kenyang, orang masih menyantap banyak makanan,” kata Gene-Jack Wang dari Brookhaven National Laboratory di Upton, New York.

Lebih lanjut mereka mengatakan dapat mensimulasikan proses yang terjadi ketika perut sudah penuh, dan untuk pertama kali mereka dapat melihat jalan kecil dari perut ke otak dan ‘mematikan’ keinginan otak untuk terus makan.”

Wang dan rekan-rekannya menguji-coba tujuh relawan yang kelebihan berat badan dan telah menyesuaikan diri dengan perangsang perut -alat yang mengelabui badan untuk berfikir bahwa perut sudah penuh, alias kenyang.

Mereka menggunakan alat pengamatan positron emission tomography (PET) untuk melihat bagian otak mana yang aktif ketika alat perangsang dihidupkan.

Mereka juga secara seksama menanyai relawan mereka, yang semuanya sangat gemuk, mengenai mengapa dan kapan mereka makan secara berlebihan.

“Kami menduga daerah (otak) yang aktif harus lah di pusat rasa kenyang, yang kami pelajari di fakultas medis mestinya berada di hypothalamus,” kata Wang.

Wang melihat banyak kegiatan di semua daerah otak, terutama di hippocampus. Wilayah itu berkaitan dengan belajar, ingatan dan juga berhubungan dengan banyak hal seperti getaran sensor dan gerak serta prilaku emosi.

Wang dan rekannya, yang menulis di Proceedings of National Academy of Sciences, mengatakan hippocampus 18% lebih aktif ketika alat perangsang perut dihidupkan.

Alat perangsang tersebut juga mengirim pesan kenyang ke sirkuit otak di orbitofrontal cortex dan stiriatum, yang telah berkaitan dengan rasa lapar dan keinginan pada pecandu kokain.

“Ini memberi bukti lebih jauh mengenai hubungan antara hippocampus, emosi dan keinginan untuk makan, dan memberi kita pandangan baru mengenai mekanisme bagaimana orang yang kelebihan berat badan menggunakan makanan untuk menenangkan emosi mereka,” kata Wang.

Semua relawan tersebut memang sedang lapar –mereka telah berpuasa selama 16 sampai 17 jam ketika alat pemantau PET dioperasikan. Alat perangsang itu berhasil membuat rasa lapar mereka berkurang, kata Wang.

Namun, yang mengejutkan ialah di bagian sirkuit otak yang digunakannya untuk melakukan itu.

“Itu serupa dengan studi mengenai ketika pemakai obat bius, ketika mereka memikirkan kokain, mereka sangat mengingini kokain,” katanya.

Jalan kecil ini mesti diteliti dalam studi lebih lanjut guna memastikan apakah ada dampak bagi perawatan atau pencegahan kelebihan berat badan, katanya.

Pengatur makan

Sebelumnya, sekelompok ilmuwan Jepang berhasil menemukan satu molekul yang diyakini bertanggung jawab untuk menentukan ‘rasa kenyang’ bagi kelompok mamalia (hewan menyusui). Penelitian itu bisa berlanjut kepada penemuan untuk merawat dan menangani obesitas yakni masalah kelebihan berat badan pada manusia.

Kelompok ilmuwan Jepang tersebut meyakini rasa selera makan dikendalikan dari dan oleh bagian otak yang terletak pada bagian depan yang disebut hypothalamus dan mereka mengatakan telah mengidentifikasikan molekul yang menjadi penentu untuk meningkatkan atau menurunkan selera makan.

Makalah hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada media online dari majalah kedokteran the Journal Nature. Penemuan itu menjelaskan molekul yang dimaksud dinamakan nesfatin-1 yang dihasilkan secara alami di otak.

Setelah menyuntikkan molekul tersebut ke dalam otak sejumlah tikus, para peneliti menyaksikan hewan pengerat yang umumnya hidup di saluran pembuangan air (got) semakin lama kian berkurang selera makannya sampai mengalami kehilangan sejumlah berat badan.

Selanjutnya para ilmuwan juga melakukan pemblokiran atau penyumbatan pada nesfatin-1 pada hewan tikus tersebut dan melihat perkembangan selera makan yang bertambah yang mengakibatkan bertambahnya bobot hewan tersebut.

“Kami telah menyuntikkan antibody anti-nesfatin-1 yang memperlihatkan bertambahnya selera makan hewan tikus yang mengakibatkan pertambahan berat badan,” kata Masatomo Mori dari Unit Pengembangan Ilmu Kedokteran Molekul di Fakultas Kedokteran Universitas Gunma, kepada Reuters.

Mori mengatakan penemuan itu dapat membuka jalan bagi pengembangan terapi obesitas yang menjadi masalah utama kesehatan di negara berkembang maupun di negara maju.

Sedikitnya tercatat ada satu miliar orang dewasa di dunia yang dinyatakan kelebihan berat badan, 300 juta di antaranya masuk kelompok ‘kegemukan’ demikian catatan organisasi kesehatan internasional, WHO.

Obesitas terkait erat dengan penyakit kronis antara lain diabetes tipe 2, penyakit cardiovascular (penyakit jantung), penyakit hypertensi (tekanan darah tinggi) dan stroke (perdarahan atau penggumpalan darah pada otak) dan beberapa jenis penyakit kanker.

Sumber: Bisnis Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: